godcomplex0-1

[ULASAN] God Complex Issue Zero

God Complex Issue Zero

Keinesasih / Hendry Prasetya / Stellar Labs

godcomplex0-1

Jujur, belakangan ini saya kurang menyimak perkembangan komik Indonesia. Salah satu alasannya menggembirakan, sebenarnya: sekarang ada banyak sekali komikus Indonesia yang berkarya, dan semakin banyak karya yang diterbitkan baik dalam bentuk cetak maupun digital. Tidak semua bisa diikuti ataupun dibeli, tidak seperti kondisi beberapa tahun lalu (tunggu… ataukah sudah satu dasawarsa lalu?) ketika kita masih jarang melihat komik Indonesia menghiasi rak-rak toko buku.

Namun begitu melihat cuitan tentang God Complex yang akan diluncurkan di Popcon, saya langsung jatuh hati dan bertekad membeli, meskipun untuk itu harus rela jauh-jauh ke Popcon. Oke, sebenarnya saya ingin menonton bincang-bincang bersama Master Fluxcup juga. Yah, dua hal itulah pendorong terbesar saya datang ke Popcon tahun ini—meskipun ternyata banyak hal menyenangkan lainnya yang saya temukan di perhelatan itu.

Eh, kok malah jadi ngomongin Popcon. Oke, mari kita kembali ke God Complex Issue Zero yang dilepas dengan harga Rp 100.000 per eksemplarnya. Sekilas tampak mahal, tapi dipikir-pikir tidak juga, mengingat kualitas cetak komik 24 halaman yang hanya dicetak sebanyak 300 eksemplar (dan ludes terjual) ini.

godcomplex0-2

Apa yang membuat saya tertarik? Saya jatuh hati kepada rancangan para Rulers – yang diwakili oleh Apollo di sampul volume pertama, eh, nol ini – dan yang juga bisa dilihat pada foto-foto collectible figure yang dipamerkan pula di PopCon. Untuk orang-orang yang tahu bahwa saya penggemar Kaneko Kazuma mungkin bisa melihat benang merah mengapa saya sebegitu mudahnya terpikat oleh para Rulers. Yang jelas, buat saya sosok-sosok bersetelan jas dengan headgear/topeng yang keren, tampak sangat menarik. Dibuat berlandaskan dewa-dewi dalam mitologi pula.

Sebenarnya, ada satu lagi sumber untuk melihat rancangan karakter-karakter dalam komik ini, yaitu situs webnya, God Complex World. Sampai saya selesai membaca komik yang semoga boleh saya singkat sebagai GC0 ini, saya justru tidak mengetahui keberadaan situs tersebut. Dengan demikian, saya tidak punya ekspektasi apa-apa selain ‘ingin melihat karakter-karakter keren ini’—dan juga harapan akan melihat mitologi yang ditekuk-tekuk dan pembahasan filosofis mengenai ‘god’.

Dan apa yang saya dapatkan dari GC0?

Tiga halaman pertama kita dibuat terkesima oleh sosok Apollo yang menyilaukan dan digila-gilai perempuan (yang menjerit melihat kedatangannya ke sebuah studio TV). Namun hal berikutnya yang ia lakukan—sesuatu yang bagi kita terasa demikian keji, tidak diperlukan, dan sepertinya hanya bisa dilakukan oleh kaum yang tidak terkekang oleh nilai-nilai manusia—mengentak kita, menarik garis jelas: inilah yang namanya seorang Ruler. Ia bukan manusia. Nice. Harapan saya membumbung tinggi.

Setelahnya, mata kita dimanja oleh dua halaman splash yang terasa keren sekali. Namun di dua halaman ini pulalah dimunculkan dua karakter di latar depan (“Siapa ini?”), karakter yang tampak fana dibandingkan ketiga Rulers yang diletakkan lebih ke belakang.

godcomplex0-3

Setelahnya, melalui kedua karakter inilah—Seneca dan Iris—kita digiring mengenali dunia dalam ‘God Complex’, dunia yang dalam volume nol ini didominasi warna-warna gelap. (Karena settingnya kebanyakan di bawah tanah dan saat malam hari? Moga-moga sih demi kesehatan semua karakter, nantinya akan ditunjukkan bahwa sebenarnya ada lebih banyak sinar dan warna-warni di God Complex World alias GCW ini.) Nah, selepas lima halaman pertama itu, Anda yang mengharapkan akan melihat lebih banyak lagi aksi dan reaksi para Rulers mungkin akan kecewa, karena cerita melulu berkutat pada misteri pembunuhan yang diselidiki oleh Seneca dan Iris, sebagai entry point kita ke GCW. Dan mungkin kalau Anda keburu mengenal GCW lewat situs webnya, kekecewaan Anda akan lebih besar daripada saya. Singkatnya, “Lho, mana Rulers-nya…”, padahal saya jamin merekalah alasan utama bagi banyak orang yang ingin membaca komik ini.

Terus terang, kedua karakter utama manusia belum menimbulkan simpati saya. Alih-alih cool, Seneca di mata saya lebih kelihatan sebagai cowok menyebalkan yang kebanyakan pundung dan sinis. Ya kalau karakternya dimaksudkan memang menyebalkan tapi cool, nggak kena saja di saya. Namanya dipendekkan jadi ‘Nec’ pula, membuat saya membaca kalimat-kalimat yang mengandung ‘Nec’ dengan nada seperti orang yang berkata Sudahlah Nek… Santai lah Nek, jadi orang kok muram amat sih. Oh tapi ternyata mas gondrong ini menyimpan rahasia (yang jadi cliffhanger di pengujung volume nol), dan sepertinya sih riwayat hidupnya cukup kompleks juga dan bisa dijadikan justifikasi mengapa dia cemberut melulu. Baiklah, kita tunggu saja pengungkapan lebih lanjut mengenai Seneca ini. Ngomong-ngomong, dia ini kesal sewaktu diberi nama samaran Andreas. Dude, please, your name’s Seneca, meskipun entahlah itu nama depan, nama belakang, atau nama sandi saja.

Sementara Iris masih terbaca oleh saya sebagai karakter perempuan yang dihadirkan atas kebutuhan akan karakter perempuan yang bad-ass dan tentunya juga cool, namun tetap menjadi pengimbang yang bisa melembutkan hati Bang Nek. Tapi seperti juga Seneca, kita masih harus menanti volume-volume berikutnya untuk melihat bagaimana sebenarnya Mbak Iris yang matanya tampak tajam mengiris ini.

Mungkin sampai di sini, ada yang lantas jadi memekik: “Lho, jadi tokoh utamanya si Seneca, bukan Rulers?”

Saya tidak tahu juga, tapi bila volume paling awal kita jadikan patokan sebagai alat memperkenalkan tokoh utama suatu serial, ya… ya, mungkin. Masihkah Anda tertarik membaca serial ini, kalau begitu?

Tidak bisa tidak, di sini juga ada peran format komik. Dengan format komik Amerika, tampaknya ada sedikit kesulitan oleh para pembuat komik ini untuk menyampaikan sebanyak mungkin informasi dalam 24 halaman pertama sekaligus menjaga kecepatan gerak komik agar tetap terasa seru. Akibatnya, secara paradoksis saya merasa telah membaca banyak namun juga tidak memperoleh banyak hal. Masalah jumlah panel per halaman? Tidak juga. Kalau mau dibandingkan, jumlah panel per halaman GC0 tidak kalah dengan format komik lain meski ada juga halaman panel-tunggal (yang dalam kasus GC0 dirasa diperlukan untuk memberikan efek ‘besar’ dan ‘tinggi’ bagi pemandangan yang ditampilkan dalam salah satu panel semacam itu, serta untuk besar-besaran menampilkan rahasia Bang Nek yang akhirnya tersingkap dari balik pakaian yang terkoyak di panel lain). Paling-paling saya agak tidak sreg melihat panelling di halaman… tunggu sebentar, saya hitung dulu, tidak ada nomor halamannya… delapan belas, kalau tidak salah. Perlu sekali ya panel sebesar-besar ini? Mungkin pengaturan panelnya jadi agak lepas sedikit karena mengejar halaman terakhir yang, itu tadi, secara jor-joran menampilkan rahasia Mas Nek yang tersingkap dari balik pakaian yang terkoyak. Kalau dijadikan film, yang main jadi Mas Nek bodinya kudu lulus ujian sixpack nih.

godcomplex0-4

Bila dinilai sebagai karya tersendiri, GC0 belum cukup nendang, masih lebih terasa seperti persilangan sci-fi dan sleuth, belum benar-benar menyentuh para Rulers sendiri (yang seharusnya bisa memberi warna mitologis dan filosofis yang lebih kental bagi GC). Kota Delphi juga belum ditampakkan dengan jelas—belum ada penggambaran yang membuat saya berpikir “Ooooh begini toh kotanya”, selain sejumlah latar yang kalau tidak menunjukkan bangunan tinggi ya bangunan yang rusak-rusak. Namun sebagai pembuka serial yang masih akan berlanjut panjang (oh, iya kan, ayo dong, tolong lekas lanjutkan, tolong, please, onegai), GC0 cukup menjanjikan dan membuat saya penasaran. Justru karena rasanya baru sedikit sekali yang terungkap di dalam volume nol ini dan para Rulers masih pada ngumpet (atau disembunyikan). Moga-moga tidak terlalu lama hamba-hamba ini harus menunggu sampai dewa-dewi pun menongolkan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s