The Age of Misrule, Bab I: Malapetaka di Laut

Sebelumnya saya mohon maaf kepada teman-teman yang telah lama menanti buku ketiga dalam apa yang seharusnya merupakan trilogi karya saya – The Search for Merlin. Oleh karena bermacam-macam hal, saya tidak kunjung menyelesaikan The Age of Misrule. Sebagai sedikit permohonan maaf, saya memutuskan untuk mengunggah beberapa bagian yang telah saya tulis (belum di-beta maupun disunting) ke blog saya ini. Semoga menikmati, dan dinanti komentarnya, memuji ataupun mencela.

Oh ya, mohon tidak mengutip, menyalin, ataupun memanfaatkan isi tulisan yang saya unggah tanpa sepengetahuan saya, ya. Terima kasih.

BAB I

MALAPETAKA DI LAUT

Guntur mendesah melihat tiga orang berjas merah mendekat dengan gaya sok ke arahnya.  Ia tahu apa yang mereka akan katakan kepadanya, namun ia tak bergeser seinci pun dan menanti sampai mereka tiba di sampingnya.

“Hei, menyingkir kau, indo.”

Pemuda yang mengucapkan itu usia dan tingginya nyaris sama dengan Guntur.  Bila mereka berdiri tegak berhadapan, hidung mereka sejajar.  Namun sementara mata Guntur hitam dan rambutnya cokelat, pemuda itu berambut pirang dan bermata biru pucat.  Wajahnya dipenuhi bintik-bintik berbagai ukuran dan nuansa warna cokelat.

Guntur berusaha menegakkan tubuhnya agar terlihat lebih menjulang dan menakutkan.  Ia saling melotot tanpa berkata-kata dengan pemuda pirang itu beberapa lama, namun akhirnya ia mengalah.  Si pirang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda gentar – yah, dia punya dua teman yang meski bertubuh lebih pendek, namun lebih berotot darinya.  Guntur minggir ke samping, dan ketiga pemuda berjas merah itu lewat dengan lagak penuh kemenangan.

Terdengar Klaas terkikik.  Pemuda itu sedang duduk tak jauh dari situ sambil membersihkan laras senapannya.

“Orang-orang Inggris,” gerutu Guntur sambil mendudukkan diri di samping sahabatnya.  “Lagaknya habis menang judi saja.  Padahal jalannya juga masih luas, buat apa pula pelotot-pelototan denganku hanya agar bisa lewat.”

“Begitulah mereka,”  Klaas berkata riang, “Merasa lebih jago dari kita hanya karena mereka sudah berlayar lebih jauh dari kita.”

Guntur diam saja, namun ia tidak bisa berpikir sepositif Klaas.  Betul, tentunya pemuda-pemuda berkulit pucat itu merasa lebih berpengalaman, karena mereka telah berlayar mengitari separuh dunia, jauh-jauh dari negeri mereka ke Hindia Timur di seberang samudera luas.  Namun Guntur tahu sikap sok mereka juga bersumber dari kesombongan mereka sebagai orang Inggris.  Orang-orang Belanda hanyalah warga negara jajahan; dan orang-orang separuh Belanda-separuh Hindia seperti Guntur dan Klaas dianggap lebih rendah lagi.

Dulu keadaannya tidak begitu.  Tadinya Belanda berhasil menyingkirkan pengaruh Spanyol dan Portugis di sebagian besar wilayah Hindia Timur, sehingga menjadi bangsa Eropa yang mendominasi kepulauan raksasa tersebut.  Namun kemudian datang Britania Raya. Didukung oleh angkatan bersenjata yang tangguh dan penyihir-penyihir yang berkekuatan dahsyat, mereka menggemparkan dunia dengan secepat kilat menyapu dan merebut daerah demi daerah, baik di Eropa maupun di benua-benua jauh semenjak abad ke-18.  Seandainya Rusia, Cina, Prancis, dan Turki tidak dengan cepat menggalang para penyihir dan alkemis mereka sendiri, pasti Britania sudah menjadi penguasa tunggal dunia.

Salah satu negara yang berhasil Britania libas adalah Belanda, yang sama sekali tak punya pertahanan terhadap sihir.  Kota demi kota jatuh bagai digulung air bah, dan bersama Belanda, jatuh pula koloni-koloni mereka di seberang lautan.  Hindia Timur Belanda tiba-tiba menjadi Hindia Timur Britania.

Dan mulailah pemuda-pemuda berkulit pucat itu berdatangan, dikirim untuk berjaga-jaga di negeri panas dan lembap berselubung rimba raya yang sebelumnya terpikirkan oleh mereka pun tidak.  Banyak di antara mereka mati sebelum penuh melaksanakan tugas, dimangsa oleh penyakit-penyakit asing yang tak dikenali sistem kekebalan tubuh mereka.  Bahkan banyak di antara mereka yang tak pernah mencapai pulau-pulau tropis yang seharusnya menjadi tempat mereka mengabdi beberapa tahun ke depan: mereka tewas di tengah perjalanan, dan laut menjadi makam abadi mereka.

Sementara yang bertahan hidup dan tiba di Hindia Timur, rata-rata menjadi seperti si pirang dan teman-temannya: menempatkan diri di atas prajurit-prajurit berdarah Belanda, pribumi, maupun yang campuran keduanya.  Dan di atas kapal-kapal seperti Stille Zee, peleton Inggris ditempatkan bersama-sama peleton Hindia Timur—belanga bergolak di mana tidak hanya bahu dan bahu yang bergesekan, melainkan juga ras.

“Bukan hanya mereka yang payah,” Guntur melanjutkan omelannya.  Ia merasa aman bercakap-cakap karena ia menggunakan dialek bahasa Belanda yang lazim digunakan di Jawa.  Bahkan orang Belanda Eropa belum tentu paham benar kata-katanya.  “Penyihir yang ditempatkan di kapal ini juga.  Sial benar kita dapat penyihir seperti dia.  Bisa apa dia?”

Klaas tanpa mencolok melirik ke arah penyihir kapal mereka yang sedang berbincang-bincang dengan Kapten, beberapa belas meter jauhnya dari mereka.  Percakapan mereka tampaknya serius; alis-alis Kapten yang tebal saling mengait, sementara si penyihir berulang-ulang menyeka keringat yang mengucur deras di dahinya.

“Kenapa dia tetap pakai jas tebal begitu, sih?”  cela Guntur, mencibir melihat pakaian yang dikenakan si penyihir.  “Jelas saja dia keringatan terus begitu.”

Klaas kembali mengurusi senapannya.  “Mereka dikirim dari Inggris tanpa tahu apa-apa soal daerah ini.  Bahkan suhu sepanas ini saja mungkin tak terbayang oleh mereka.”

“Mungkin juga karena kesombongan mereka – tahu kan.  ‘Oh!  Kita orang Inggris!  Masa sih berpakaian seperti orang-orang Hindia Timur?’  Begitu.”

Tawa Klaas kembali terdengar.  “Iya, mungkin saja.  Tapi kasih mereka dua-tiga bulan lagi, maka paling-paling mereka sudah membuang semua kesombongan mereka itu ke laut.”

Guntur mendengus, tidak menanggapi lagi.  Ia berdiri dan bersender di pagar kapal, menatap Selat Malaka yang terbentang luas.  Kapal mereka bulan lalu menerima tugas baru, yaitu mengamankan Selat Malaka dari para perompak.  Bukan tugas enteng, namun dengan prajurit-prajurit hijau yang belum lama tiba dari Inggris, menjaga Selat Malaka adalah kerja bergengsi paling ringan yang bisa diberikan kepada mereka.  Tak mungkin mereka diturunkan untuk bentrok dengan kapal-kapal Prancis yang menghantui perairan di timur dan utara.

Penyihir kapal Stille Zee lewat dengan langkah-langkah cepat di hadapan Guntur dan Klaas.  Kedua pemuda itu tidak merasa perlu repot-repot berdiri untuk menunjukkan rasa hormat kepadanya—karena bagaimanapun kedudukan sang penyihir lebih tinggi daripada mereka.  Namun si penyihir juga tampaknya tidak peduli.  Ia sepertinya sedang mencemaskan sesuatu yang lebih penting daripada penghormatan dari dua orang serdadu.

“Apa dia mabuk laut?” bisik Klaas.

“Wajahnya agak hijau.  Tapi masa’ dia masih mabuk laut, sih, setelah berminggu-minggu ada di atas kapal dari Britania.”

“Yaa, bisa saja.  Atau mungkin dia sakit perut.”

Namun malam harinya, tanpa sengaja Guntur mendengar sang kapten—seorang Belanda totok—menggerutu kepada jurumudinya saat mereka makan malam bersama.  Guntur sedang kebagian berjaga di depan pintu ruang makan yang terbuka sedikit.  “Di antara semua penyihir yang bisa dikirimkan Magicians’ Office for Eastern Wars, kita dapat dia.  Penyihir kemarin sore dengan kemampuan defensif yang terus-terang saja kuragukan.”

“Kalau kapal lawan punya penyihir tipe ofensif yang kuat sekali, habislah kita,” gumam jurumudi tanpa repot-repot mencopot cangklongnya dari mulut.

“Ya, habislah kita.”

Nada ucapan sang kapten yang sedemikian pesimis membuat hati Guntur tidak enak.  Ia berdiri dengan kikuk, berusaha mendengarkan lebih lanjut.  Namun kapten dan jurumudi mengobrol dengan suara yang semakin dipelankan.

Guntur jadi bertanya-tanya, ke mana si penyihir?  Ia tidak ikut makan dengan kapten, jurumudi, dan dokter kapal malam ini.  Dan apa benar ia sedemikian lemah, sampai-sampai Kapten dan Jurumudi terdengar pasrah?  Apakah mereka melebih-lebihkan?  Toh yang mereka hadapi adalah para perompak Melayu, bukan kapal-kapal perang Prancis…

Ketika orang-orang penting Stille Zee telah selesai bersantap, dan tugas jaga Guntur malam itu selesai, sang serdadu muda memutuskan untuk mencari angin di geladak.  Agak terkejut ia mendapati si penyihir kapal sedang berdiri merenung, bertelekan di pagar kapal.  Wajahnya tampak sendu dan menderita, sehingga Guntur jadi merasa tidak enak hati sering meledek-ledek si penyihir.

Guntur mendehem, dan menyapa si penyihir.  “Mr Bowfly.”

Si penyihir terperanjat ditegur begitu.  Ia menoleh ke arah Guntur dengan gerakan tersentak.  Penyihir berambut  dengan warna seperti jerami itu hanya beberapa tahun lebih tua dari Guntur – paling-paling baru 23 atau 24 – tapi keletihan yang membayang membuat ia tampak jauh lebih tua.  “Oh, hai, prajurit,” Ia tersenyum lemas.

“Anda sehat-sehat saja, Sir?”  Guntur tidak terlalu fasih berbahasa Inggris, namun ia tahu bahwa bahasa itulah yang harus ia pergunakan, karena kecil kemungkinan Mr Bowfly bisa berbahasa Belanda.  Selalu begitu.  Semua warga jajahan Britania harus mempelajari bahasa Inggris.  Namun tak ada kewajiban bagi orang Britania untuk mempelajari bahasa wilayah-wilayah jajahannya.

“Apa?  Oh, oh ya, oh ya, aku tidak apa-apa.”  Logat Mr Bowfly asing sekali bagi Guntur.  Agak susah menangkap kata-katanya.  “Aku hanya… hanya…”  Suara Mr Bowfly mengecil.  “…agak gugup.”

“Gugup?” ulang Guntur, yang lantas berpikir apakah kegugupan bisa mengubah warna wajah seseorang menjadi hijau.

Mr Bowfly mendesah, kembali menatap laut lepas.  “Ah, tidak, tidak.  Hanya saja ini kali pertamaku bertugas di atas kapal perang.”  Ia diam sejurus, lalu bertanya, “Kau sendiri bagaimana?  Ini pengalaman pertamamu?”

“Saya sudah dua kali bertugas di kapal, Sir, sebelumnya selama enam bulan.”

“Umurmu berapa, sih?”

“Januari nanti 17, Sir.”

Mr Bowfly menerawang.  “Tu-juh be-las.  Muda sekali, ya.  Dulu waktu seusiamu, aku masih di akademi.”

Mendadak Guntur merasa ingin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, namun ia menjaga kedua tangannya tercencang di samping tubuh.  “Saya masuk sekolah prajurit, Sir, bukan sekolah perwira.”

“Ah, ya.”  Justru Mr Bowfly yang menggaruk-garuk kepalanya sehingga rambutnya acak-acakan.  Ia terlihat begitu memprihatinkan, begitu payah, sehingga tanpa tercegah rasa sebal terbersit di hati Guntur.  Bukankah para penyihir perang seharusnya tampil gaya?  Menggetarkan?  Meyakinkan?  Apa-apaan orang ini?  “Aaah, seandainya aku…”  Tiba-tiba gerakannya berhenti.  Seluruh tubuhnya menegang, dan matanya melebar.  Selaput pelangi matanya yang berwarna biru sekejap berubah menjadi kehijauan.

Di saat Guntur terheran-heran menyaksikan perubahan mendadak sang penyihir, dengan kaget ia juga menyadari bahwa bulunya meremang.  Rasa takut yang tak bisa ia jelaskan tahu-tahu menjalar di seluruh tubuhnya.  Dan juga ada sesuatu yang lain…

Dan Mr Bowfly pun menyadari perubahan pada diri Guntur.  Terbeliak ia menatap Guntur, dan mencengkeram serta mengguncang-guncang lengan sang serdadu.  “Kau!  Kau juga rasakan itu?”

“Eh… ah…”  Guntur kebingungan harus berkata apa.  Ya, ia merasakan, tapi merasakan apa?  Kengerian?

Mr Bowfly melepaskan lengan Guntur dan mulai berlari ke arah kabin kapten.  “Kapten!  Kapten harus tahu!”

“Tahu apa, Sir?”  Guntur menyusul sang penyihir, kaki-kakinya terdorong oleh apapun itu yang ia rasakan namun tak bisa jabarkan dengan kata-kata.

“Datang!  Dia datang…”

Saat itu juga, laut bergolak, dan kapal berguncang keras; terdengar pekik terkejut dari segala sisi kapal.  Kapal terus berguncang, keras sekali, membuat Guntur sekalipun mual.  Lalu ia mendengar… mendengar… apa?  Apa itu yang ia dengar?  Lolongan?  Raungan?  Suara yang membahana, namun seolah tak benar-benar ada… mengambang di udara, namun mencekik semua orang, menghujam semua gendang telinga…

Lalu sinar-sinar membutakan berkelebat; bunga api bergemericik di udara.  Jeritan dan teriakan menambah panik suasana.  Guntur melindungi matanya dengan tangan, namun di sela-sela jarinya ia bisa melihat prajurit Inggris pirang yang angkuh melotot ke arah sesuatu yang tak terlihat oleh Guntur.  Wajah si prajurit pucat pasi akibat ketakutan tak terkira—dan wajahnya lumer, lumer…

Dentuman keras.

Ledakan.

Setelahnya, di sekeliling Guntur hanya ada kegelapan.  Namun untuk beberapa lama, di telinganya masih terdengar suara raungan janggal, dari suatu tempat yang jauh.

6 thoughts on “The Age of Misrule, Bab I: Malapetaka di Laut

  1. Keren kak! Eh mau tanya itu kata2 “Ia saling melotot tanpa berkata-kata…” Bukannya lebih pas kalo jadi “mereka saling melotot tanpa berkata-kata” ? Begitu kak? Maaf kalau salah, hanya penasaran aja hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s